Urgensi Bahasa Arab

Bahasa Arab adalah bahasa kesatuan kaum muslimin sedunia, bahasa yang digunakan untuk komunikasi Allah SWT dengan hamba-Nya (Rasulullah SAW) berupa al-Quran. Bahasa yang telah dipilih oleh Allah SWT ini adalah bahasa yang paling kaya dan sempurna di antara bahasa-bahasa yang ada di bumi ini. Suatu bahasa yang tetap akan terjaga asholah-nya (keaslian) sampai hari qiyamat, tak akan terkontaminasi oleh lajunya peradaban dunia. Tidak seperti bahasa lain yang mudah tercemar seiring dengan globalisasi dan majunya peradaban.

Arti penting bahasa Arab sebagai ilmu alat bagi ummat Islam untuk memperdalam diennya merupakan suatu kebutuhan primer yang tak boleh ditawar-tawar. Maka setiap muslim terlebih aktivis dakwah sudah semestinya memulai untuk mempelajari bahasa Arab dan berkutat dengan kitab-kitab kuning utamanya kitab-kitab turast (induk) dalam mendulang lautan ulumul syar’i.

Dahulu ketika dakwah Islam memasuki pusat-pusat peradaban dunia dan membangun kejayaannya nangemilang, bahasa yang digunakan juga bahasa Arab. Kala itu bahasa Arab selain resmi menjadi bahasa pemerintahan, juga menjadi bahasa dunia pendidikan, bahasa ilmu pengetahuan serta bahasa rakyat sehari-hari. Padahal negeri-negeri yang dimasuki Islam itu tadinya bukan negeri Arab.

Allah telah menjadikan bahasa Arab sebagai bahasa Al-Qur’an karena bahasa Arab adalah bahasa yang terbaik yang pernah ada sebagaimana firman Allah:
?????? ????????????? ???????? ?????????? ??????????? ???????????
“Sesungguhnya Kami menurunkannya berupa Al Quran dengan berbahasa Arab, agar kamu memahaminya.”

Untuk menguasai bahasa Arab itu minimal harus menguasai empat sisi yaitu:

1. Fahmul Masmu’

Maksudnya kita harus mampu memahami apa yang kita dengar. Jadi kalau ada orang Arab membacakan berita di TV atau sedang berdialog dengan orang lain, kita mampu mengerti dan memahaminya , tentunya melalui beberapa tahapan.

2. Fahmul Maqru’

Maksudnya kita harus mampu memahami teks yang kita baca. Sehingga buku, kitab, majalah, koran atau teks apapun yang tertulis dalam bahasa Arab, mampu kita pahami, tentunya dengan kaidah bahasa arab yaitu “Nahwu dan Shorof”.

3. Ta’bir Syafahi

Maksudnya kita mampu menyampaikan isi pikiran kita dalam bahasa Arab secara lisan, dimana orang Arab mampu memahami apa yang kita ucapkan.

4. Ta’bir Tahriri

Maksudnya kita mampu menyampaikan pikiran kita kepada orang Arab dengan bentuk tulisan, dimana orang Arab bisa dengan mudah memahami maksud kita dalam bentuk tulisan.

Hukum Mempelajari Bahasa Arab
Syaikhul Islam Berkata: “Sesungguhnya bahasa Arab itu sendiri bagian dari agama dan hukum mempelajarinya adalah wajib, karena memahami Al-Kitab dan As-Sunnah itu wajib dan keduanya tidaklah bisa difahami kecuali dengan memahami bahasa Arab. Hal ini sesuai dengan kaidah:Apa yang tidak sempurna suatu kewajiban kecuali dengannya maka ia juga hukumnya wajib.” (Kaidah Ushul Fiqh)

Umar bin Khattab menulis kepada Abu Musa Al-Asy’ari (yang isinya) “…Pelajarilah As-Sunnah, pelajarilah bahasa Arab dan I’roblah Al-Qur’an karena Al-Qur’an itu berbahasa Arab.” Umar juga berkata: “Pelajarilah bahasa Arab sesungguhnya ia termasuk bagian dari agama kalian”.

Biasanya, alasan paling klasik dalam mempelajari Bahasa Arab adalah lamanya masa belajar dan rasa bosan yang dengan cepat menghantui para pelajar. Apalagi ditambah dengan padatnya aktiftitas peserta di luar jam kursus, sehingga biasanya lembaga kursus itu menyelenggarakan pengajaran bahasa dengan cara non-intensif. Kursus diselenggarakan seminggu sekali, atau seminggu dua kali. Sekali pertemuan hanya 2 atau 3 jam saja. Dilihat dari sisi keintensifannya saja, sudah terbayang kegagalannya.

Terkadang diantara kita ada yang secara teori mungkin menguasai dasar-dasar gramatika bahasa Arab, tetapi secara dzauq (taste), kemampuan mereka amat terbatas. Banyak sekali diantara kita yang mampu berbicara dalam bahasa Arab, terutama dari dunia pesantren namun dengan ta’bir (cara pengungkapan) yang bukan digunakan oleh orang Arab. Sehingga orang Arab sendiri pun kalau mendengarnya agak berkerut-kerut dahinya sampai 10 lipatan.

Jadi kesimpulannya adalah kita harus mempelajari bahasa Arab itu dari semua sisi, bukan hanya berbicara tanpa memerhatikan kaidahnya tetapi yang lebih penting adalah bagaimana bisa menerapkan Bahasa ini sesuai dengan kaidah yang benar, sehingga bisa dipahami oleh semua orang terutama orang Arab sendiri.

Tetapi dengan niat dan tekat yang bulat InsyaAllah masalah-masalah tersebut bias diatasi, sehingga kita bisa mempelajari bahasa Arab yang mana bahasa yang telah di pakai oleh para Ulama’- Ulama’ terdahulu dalam menyampaikan dan memahami kandungan Al Qur’an dan Al Hadits.

Semoga Allah SWT mempermudah kita dalam mempelajari agamanya termasuk perantaranya yaitu berupa Bahasa Arab. Amieenn.. Wallahu A’lam (Setyawan)

About these ads